Jumat, 02 Desember 2011

Masjid Wapauwe

Masjid Wapauwe
Masjid Tua Wapauwe.jpg Masjid Tua Wapauwe
Letak Kaitetu, Maluku, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
 
Masjid Tua Wapauwe adalah masjid yang sangat bersejarah dan merupakan masjid tertua di Maluku. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun pada tahun 1414 Masehi. Masjid yang saat ini masih berdiri dengan kokohnya, menjadi bukti sejarah Islam di Maluku pada masa lampau.

Warisan sejarah

Masjid Tua Wapauwe (foto sekitar tahun 1900-1925).
Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda yang telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon pada tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis ini, terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).
Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk menyebarkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.
Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecahnya Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane.
Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.
Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

Peninggalan

Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.
Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.
Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.
Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

Berpindah secara gaib

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. "Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu) masjid ini berpindah secara gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada," kata Ain Nukuhaly, warga Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembab.
Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut akibat faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat obat serbuk (tidak disebutkan namanya) untuk menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.
"Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan waktu-waktu tertentu saya masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini) seperti pada waktu Ramadhan," kata Rahman yang adalah keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy. Konstruksi dan arsitektur
Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-salat Jumat maupun salat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.
Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Tipologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

 Renovasi

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa mengubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid.
Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama.
Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak mengubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.

Aksesibilitas

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan, orang yang hendak menuju Masjid Wapauwe bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang kadang-kadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkeh dan pala hijau menyejukkan mata.
Sebelum mencapai Kaitetu, terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang.
Tiba di simpang empat Hitu, bagi yang membawa kendaraan harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, maka akan menemukan Negeri Kaitetu, lokasi Masjid Wapauwe.[1]
Jenis arsitektur Masjid
Tahun selesai 1414
Spesifikasi

Masjid Tuo Kayu Jao

Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur
Tahun selesai
Spesifikasi
 
 Masjid Tuo Kayu Jao adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan sekitar abad ke-16. Masjid berarsitektur khas Minangkabau ini terletak di Jorong Kayu Jao, nagari Batang Barus, kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Aristektur

Di samping keasliannya yang tetap terjaga, arsitektur pada masjid ini juga sangat mudah untuk dikenali. Atapnya yang terbuat dari ijuk melambangkan desain rumah adat Minangkabau yakni Rumah Gadang, selain itu juga pada bagian mihrabnya yang diberi gonjong.
Jumlah tiangnya yang sebanyak 27 buah[1] melambangkan enam suku yang masing-masing terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat) sehingga jumlahnya 24 bagian, ditambah dengan tiga unsur dari agama yakni khatib, imam dan bilal, sehingga jumlahnya menjadi 27. Kuatnya syariat agama Islam di daerah tersebut juga tergambar dari jumlah jendelanya yang 13 buah, yang mengisyaratkan rukun Salat yang 13 macam.
Menurut seorang tokoh masyarakat setempat, di awal pembangunan masjid tersebut hingga beberapa tahun kemudian, pola bangunan yang tidak memakai paku masih tetap dipertahankan[2].

Masjid An-Nur Batu Merah

Masjid An-Nur adalah sebuah masjid yang berlokasi di Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, provinsi Maluku.
Masjid ini didirikan pada tahun 1575 Masehi oleh Ibrahim Safari Hatala. Luas masjid pertama kali ialah 10 x 15 Meter dengan arsitektur yang sederhana dan kubah yang berbentuk kerucut dengan atap terbuat dari daun rumbai dengan lantai pasir putih.[1]

 Pemugaran

Tahun 1605 Masehi bangunan masjid di pugar menjadi bangunan permanen oleh Hasan Hatala dengan gelar Hatti Raja Hatala. Pemugaran kedua pada tahun 1805 M oleh raja Abdurrahman Hatala. Tahun 1924 bangunan masjid dipugar kembali di bawah pemerintahan Raja Abdul Wahid Nurlette (ulama terkenal pada zamannya) dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya. Pada masa inilah Buya Hamka yang menjadi ketua MUI pertama di Indonesia dan Bey Arifin Ulama kondang dari Jawa Timur pernah belajar bersama-sama dengan ulama-ulama di Masjid Batu Merah pada masa kebangkitan nasional.
Tahun 1973-1974 dilakukan pemugaran kembali oleh raja Ahmad Nurlette. Tahun 1988 pemugaran dilakukan dengan mengganti dan memperindah tembok yang mengelilingi masjid dengan pilar-pilar semen kecil.

Masjid Raya Ganting

Masjid Raya Ganting
Masjidrayaganting.jpg Masjid Raya Ganting
Letak Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Timur Tengah dan Eropa
Tahun selesai 1810
Spesifikasi

Masjid Raya Ganting adalah salah satu masjid di Sumatera Barat yang terletak di kelurahan Ganting, kecamatan Padang Timur, Kota Padang.[1]
Dalam perjalanan sejarah Kota Padang, masjid ini turut memberikan andil. Selain lokasi pengembangan agama Islam di pulau Sumatera, juga pernah dijadikan lokasi Jambore Hizbul Wathan se-Indonesia pada tahun 1932.[2]
Sejak tahun 1950, Masjid Raya Ganting semakin ramai dikunjungi beberapa pejabat tinggi negara, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tercatat dari beberapa pejabat negara yang pernah berkunjung sekaligus melaksanakan salat di Masjid Raya Ganting antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Hamengkubuwana IX, Achmad Syaichu, Abdul Haris Nasution, dan beberapa tokoh lainnya.[3] Pada tahun 1942, Soekarno pernah menginap di salah satu rumah yang ada di belakang masjid, bahkan memberikan pidato di masjid ini.[4]

Sejarah

Masjid Raya Ganting dengan atap yang berbentuk tumpang
Sebelumnya masjid ini berada di kaki Gunung Padang, sebelum dipindahkan ke lokasi sekarang, dibuat dari bahan kayu dan atap yang dibuat dari rumbia. Atas prakarsa dari tokoh masyarakat setempat, Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Uma (tokoh masyarakat), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama) bersepakat untuk melanjutkan pembangunan masjid yang lebih baik lagi pada tahun 1805.[2]
Masjid yang memiliki bentuk arsitektur Timur Tengah dan Eropa ini, didirikan di atas tanah wakaf Suku Caniago yang biayanya diperoleh dari para suadagar dan ulama-ulama Minangkabau. Pembangunan masjid ini mendapat simpati dari salah seorang anggota Corps Genie Belanda berpangkat kapten yang menjabat sebagai Komandan Genie wilayah Gouvernement Sumatra's Westkust yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli. Pada tahun 1810 pembangunan masjid ini dapat diselesaikan.


Arsitektur

Masjid Ganting berdiri di atas lahan seluas 102 x 95,6 meter persegi, dan memiliki halaman yang cukup luas untuk menampung banyaknya jamaah yang melaksanakan Salat Ied di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.[5]
Bangunan masjid ini berbentuk persegi panjang yang simetris berukuran 42 x 39 meter, dengan atap berbentuk tumpang berjumlah 5 tingkat. Bangunan terbagi atas serambi muka (12 x 39 meter), serambi kanan (30 x 4,5 meter), serambi kiri (30 x 4,5 meter), dan ruang utama (30 x 30 meter). Sokoguru (tiang utama) masjid berjumlah 25 buah yang berbentuk segi enam dengan diameter 40 cm dan tinggi mencapai 4,2 meter yang terbuat dari beton.[5]
Di sebelah selatan dan belakang masjid terdapat beberapa makam, salah satu makam yang ada di selatan masjid adalah makam Angku Syekh Haji Uma, pemrakasa pembuatan Masjid Raya Ganting.

Peristiwa Penting

Beberapa peristiwa penting dalam sejarah juga pernah terjadi di masjid ini, diantaranya:[2]

Gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau

Pada tahun 1918, berkumpullah seluruh ulama pembaharuan agama Islam Minangkabau di Masjid Raya Ganting. Pertemuan itu untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh untuk melaksanakan pemurnian ajaran agama Islam yang pada saat itu masih diwarnai oleh pemahaman mistik dan khufarat, yang merupakan peninggalan agama Budha dan Hindu yang sebelumnya juga pernah berkembang dikalangan masyarakat Minangkabau.

Embarkasi Haji

Dengan berfungsinya pelabuhan Emmahaven (atau pelabuhan Teluk Bayur sekarang) menjadikan Masjid Raya Ganting sebagai tempat embarkasi haji pertama di Sumatera Tengah. Dari masjid inilah diberangkatkan calon jemaah haji melalui pelabuhan Emmahaven menuju Mekkah.

Sekolah Thawalib

Pada tahun 1921, Syech H. Karim Amarullah (ayah dari Buya Hamka) mendirikan sekolah Thawalib didalam pekarangan Masjid Raya Ganting sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat kota Padang saat itu. Alumni dari sekolah ini mendirikan Persatuan Muslim Indonesia (Permi) yang merupakan cikal bakal partai Masyumi.

[sunting] Tempat mengungsi Bung Karno

Di tahun 1942, Jepang mulai menduduki Indonesia, saat itu Soekarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan oleh Belanda ke Kutacane, Aceh, namun ketika rombongan pasukan Belanda baru sampai di Painan, tentara Jepang sudah lebih dulu sampai di Bukittinggi. Belandapun merubah rencana semula dengan mengungsi ke Barus dan meninggalkan Sukarno di Painan.
Selanjutnya oleh Hizbul Wathan yang bermarkas di Masjid Raya Ganting saat itu, Bung Karno dijemput ke Painan untuk dibawa ke Padang dengan menggunakan kendaraan pedati. Beberapa hari kemudian Bung Karno dibawa ke Padang dan menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Ganting.

Pembinaan prajurut Gyugun dan Hei Ho

Selama pendudukan tentara Jepang (1942–1945) di Sumatera Tengah (saat itu), Masjid Raya Ganting menjadi tempat pembinaan prajurit Gyugun dan Hei Ho, yang merupakan kesatuan tentara pribumi yang dibentuk oleh Jepang.

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II
Palembang Grand Mosque.jpg Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II
Letak Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
 
 Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Indonesia, China dan Eropa. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng. Masjid ini dulunya adalah masjid terbesar di Indonesia selama beberapa tahun. Bentuk masjid yang ada sekarang adalah hasil renovasi tahun 2000 dan selesai tahun 2003. Megawati Soekarnoputri adalah orang yang meresmikan masjid raksasa Sumatera Selatan modern ini.

Masjid Ikhsaniyyah

Masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu adalah masjid tertua di kota Jambi, provinsi Jambi. Masjid ini terletak di seberang pusat Kota Jambi yang dibelah sungai Batanghari, tepatnya di kawasan Olak Kemang, kecamatan Danau Teluk, Jambi.

Masjid Ikhsaniyyah
COLLECTIE TROPENMUSEUM Moskee Djambi TMnr 10016663.jpg Masjid Ikhsaniyyah
Letak Jambi, Jambi, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Spesifikasi
 
 
 Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh seorang habib bernama Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo.
Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

Ciri khas

Bangunan dalam masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada di bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari masjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi masjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.

 Tradisi Sumpah

Sekitar tahun 60-an, masjid Ikhsaniyyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa perkara itu ke masjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para pendudk dan pemuka agama.
Menurut Habib Salim, seorang pengurus masjid, masjid ini diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Masjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.
Namun sayang, tradisi itu sudah hilang sama sekali. Tak ada lagi orang yang menjadikan masjid itu sebagai sarana mempertemukan kebenaran dan mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yang mengetahui kisah tersebut.

Dipugar Belanda

Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadad Daarain, Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar masjid. Saat itu tahun menunjukkan angka 1935.
Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda. lalu masuklah permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid.
Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tersebut merupakan peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid.[1]

Masjid Tua Patimburak

Masjid tua Patimburak adalah sebuah masjid tua bersejarah dan terletak di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam di Papua dan menjadi sebagai salah satu pusat agama Islam di Kabupaten Fakfak.

Masjid Tua Patimburak
Masjid Tua Patimburak.jpg Masjid Tua Patimburak
Letak Fakfak, Papua Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Tahun selesai 1870
Spesifikasi

Sejarah

Masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai Masjid Tua Patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun yang lalu, bahkan merupakan masjid tertua di Kabupaten Fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga saat ini dibangun pada tahun 1870, seorang imam bernama Abuhari Kilian.
Pada masa penjajahan, masjid ini bahkan pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.
Menurut Musa Heremba, penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad XV, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.

 Kondisi masjid

Aura tradisional muncul saat menyambangi lokasi masjid tua ini. Di kampung yang dihuni tak lebih dari 35 kepala keluarga tersebut didapati kesederhanaan yang menyatu dari bangunan masjid dan kehidupan masyarakatnya.
Sekilas bangunan masjid seluas tidak lebih dari 100 meter persegi ini tampak biasa. Namun coba perhatikan lebih seksama. Masjid ini memiliki keunikan pada arsitekturnya, yaitu perpaduan bentuk masjid dan gereja. Musa Heremba, imam Masjid Patimburak mengaku bangunan masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Meski mempertahankan bentuk aslinya, namun material asli yang belum diganti adalah empat buah pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid.
Di pelataran masjid, sebuah pohon mangga kokoh berdiri. Namun, bukan sembarang pohon mangga. Dari ukuran batangnya, bisa dipastikan usia pohon raksasa ini tak terpaut jauh dengan usia masjid. Syahdan, perlu empat rentang tangan orang dewasa untuk merengkuh keseluruhan batang pohon ini.

Aksesibilitas

Untuk mencapai Masjid Tua Patimburak, sebelumnya harus menempuh perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal kota Fakfak. Selama 2 jam anda akan menyusur jalan berkelok dan segarnya udara pegunungan. Tiba di kota Kokas, perjalanan menuju Kampung Patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan.
Pemandangan selama 1 jam mengendarai long boat.Jika menggunakan long boat, pengunjung yang ingin menuju Masjid Tua Patimburak bisa menikmati keindahan pulau-pulau karang yang masih perawan di sepanjang perjalanan[1].